Menu

Wednesday, 1 January 2014

Aliran Mu'tazilah



Asal usul Mu’tazilah
             Mu’tazilah yang berasal dari bahasa Arab اعتزل)) berarti : menjauhkan, mengenyampingkan atau memisahkan.
Sedang penamaan Mu’tazilah yang menggambarkan asal usulnya terdapat perbedaan pendapat :
            Al Syahrastani menjelaskan bahwa nama Mu’tazilah didasarkan pada peristiwa Washil bin ‘ Atho dengan teman-temannya ‘Amr bin Ubaid. Keduanya dikenal sebagai pengikut pengajian Hasan Basri yang setia, tetapi pada suatu hari datang salah seorang menanyakan tentang kedudukan pelaku dosa besar. Hasan Basri baru berpikir, tiba-tiba Washil bin ‘Atho mengemukakan pandangannya bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak kafir dan tidak pula mukmin, melainkan berada di antara keduanya. Setelah itu ia meninggalkan pengajian, maka Hasan Basri mengatakan bahwa Washil bin ‘Atho menjauhkan diri dari kita (I’tazala) dan pengikutnya dinamakan Mu’tazilah.
            Al Baghdadi menambahkan bahwa bukan masalah dosa besar saja Mu’tazilah berbeda pendapat dengan gurunya, tetapi juga masalah qadar, sehingga memisahkan diri dan membentuk pengajian sendiri.[3] Al Mas’udi mengemukakan pendapat yang sama bahwa mereka disebut kaum Mu’tazilah karena pendapatnya yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar berada pada posisi di antara mukmin dan kafir (al-manzilat baina manzilatain). Kemudian Jarallah memperkuat dengan mengemukakan bahwa pendapat Mu’tazilah tentang pelaku dosa besar bukan kafir mutlak dan bukan pula mukmin mutlak, melainkan fasik.
Ahmad Amin mengemukakan:
a.        Dikatakan Mu’tazilah didasarkan pada peristiwa Washil bin ‘Atho dengan gurunya
b.       Disebut Mu’tazilah karena mempunyai pandangan yang berbeda dengan orang-orang terdahulu mengenai kedudukan pelaku dosa besar
c.        Nama Mu’tazilah diberikan kepadanya karena pendapatnya yang keluar dari apa yang dianut oleh sebagian besar kaum muslimin tentang pelaku dosa besar
d.       Nama Mu’tazilah sebenarnya sudah dikenal beberapa tahun sebelum peristiwa Washil bin ‘Atho dengan gurunya Hasan Basri. Nama tersebut diberikan kepada golongan yang tidak mau terlibat pada pertikaian antara kelompok Usman bin Affan dengan kelompok Ali bin Abi Thalib.
Tampaknya Ahmad Amin membagi dua kelompok aliran Mu’tazilah, kelompok pertama bercorak teologi, yakni terlibat dalam pembahasan mengenai pokok-pokok ajaran agama berdasarkan pemikiran, sementara kelompok kedua bercorak politik. Meskipun demikian, baik kelompok pertama maupun kelompok kedua berarti memisahkan diri karena tidak termasuk dalam kelompok yang ada pada masanya.
Pandangan Ahmad Amin tentang kelompok  Mu’tazilah kedua ada kemiripan dengan pandangan Orientalis, yaitu Nallino, seperti yang dikutip oleh Harun Nasution bahwa Mu’tazilah tidak mengandung pengertian memisahkan diri dari umat Islam lainnya, tetapi merupakan golongan yang mempunyai pandangan yang bersifat netral antara pandangan Khawarij dan Murji’ah. Di samping itu, antara kelompok Mu’tazilah pertama dengan kedua merupakan satu rangkaian.
Berbeda dengan pandangan Goldziher yang dikutip oleh Fazlur Rahman bahwa Mu’tazilah tidak suka terlibat dalam pertentangan apapun, sehingga nama Mu’tazilah berasal dari bahasa Arab berarti absen dari, menjadi netralis, berada di sisi, menunjukkan kepada sifat mereka yang salah dan tidak suka ikut campur dalam pertentangan pendapat.
Golongan lain menamakan Mu’tazilah dengan Mu’attilah karena menafikan sifat-sifat Tuhan, tetapi mereka sendiri menamakan dirinya dengan Ahli Keadilan dan Keesaan ( Ahlu al Adl wa Al Tauhid).

b. Corak Pemikirannya
           
Aliran Mu’tazilah dikenal sebagai golongan tradisional dalam Islam, karena di antara yang ada, dialah yang paling banyak memberi fungsi terhadap akal dalam membahas masalah keagamaan. Namun demikian, untuk mengetahui secara jelas corak pemikiran aliran Mu’tazilah, maka yang menjadi pembahasan utama dalam persoalan tersebut adalah peranan akal dalam kehidupan umat manusia, karena manusia dalam hidupnya di beri dua hal yang menjadi pedoman baginya agar tidak sesat, yaitu akal dan wahyu.
            Jika diperhatikan pembahasan tentang fungsi akal dan wahyu dalam kehidupan beragama di kalangan Mutakallimin, senantiasa dihubungkan dengan 4 masalah pokok, yaitu: 
1) Mengetahui Tuhan, 
2) Mengetahui kewajiban Tuhan, 
3) Mengetahui baik dan buruk, 
4) Mengetahui kewajiban melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk.
            Aliran Mu’tazilah dalam melihat masalah tersebut mengatakan bahwa keempat masalah di atas bisa diketahui aka. Akal dapat dijadikan pedoman dalam menentukan baik dan buruknya sesuatu sebelum datangnya wahyu, sehingga wajib untuk melakukan penalaran yang mapan agar dapat mengantar manusia untuk mengetahui kewajiban-kewajibannya. Karena itu, akal yang sudah sempurna merupakan sumber pengetahuan yang dapat mengetahui apa yang mendatangkan mudharat dan dosa.
Akal yang sudah sempurna itu dimiliki oleh orang yang sudah mukallaf, sehingga hanya dialah yang dapat mengetahui 4 masalah tersebut di atas.
            Meskipun demikian, tidaklah berarti bahwa semua masalah secara rinci dapat diketahui oleh akal, tetapi ada hal-hal tertentu dimana akal sangat membutuhkan penjelasan wahyu karena akal mempunyai keterbatasan, yaitu dalam perincian terhadap baik dan buruk serta kewajiban umat manusia.
             Al Jabbar menjelaskan bahwa akal hanya dapat mengetahui sebahagian yang baik dan buruk serta kewajiban, sehingga wahyulah yang menyempurnakan pengetahuan akal tersebut, termasuk menjelaskan cara berterima kasih kepada Tuhan, seperti shalat, zakat, dan puasa. Karena itu, ada pengetahuan baik yang diketahui oleh akal dan ada yang diketahui oleh wahyu, begitu pula dalam hal yang buruk.
            Fungsi lain dari wahyu dalam pandangan aliran Mu’tazilah dikemukakan oleh al Syahrastaniy yaitu mengingatkan manusia tentang kewajibannya dan mempercepat untuk mengetahuinya. Di sini dapat dipahami bahwa jika melalui akal memerlukan waktu yang lama karena harus ada pengamatan, kemudian dipikirkan lalu mengambil keputusan.
            Oleh Harun Nasution dikatakan bahwa fungsi wahyu terhadap akal sebagai informasi dan konfirmasi. Memberikan informasi terhadap apa yang belum diketahui oleh akal di samping mengkonfirmasikan apa yang telah diketahui akal.
            Aboe Bakar Atjeh menjelaskan tentang fungsi akal bagi aliran Mu’tazilah yaitu akal dapat menjangkau segala persoalan kehidupan manusia, sehingga apa yang dihasilkan oleh akal harus di terima. Jika terjadi pertentangan antara hasil akal dengan ketentuan wahyu, misalnya terhadap ayat-ayat mutasyabihat, maka harus di ta’wilkan agar sesuai dengan ketentuan akal. Meskipun demikian, aliran Mu’tazilah tidak meninggalkan aturan.


c. Mu’tazilah dan peristiwa Mihnah

            Mihnah berarti cobaan atau ujian yang diberikan kepada aparat negara dan ahli hadis untuk mengetahui faham mereka. Ujian ini dilakukan oleh Mu’tazilah yang pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah (813-847 M) yaitu masa khalifah al Makmun, al Mu’tashim dan al Watsiq, Mu’tazilah mengalami perkembangan dan kejayaan karena mendapat dukungan dari khalifah dan dinyatakan sebagai mazhab resmi pemerintah. Al Makmun sendiri termasuk murid  Abu Huzail al Dual (salah seorang tokoh Mu’tazilah dan bermaksud mengembangkan ajaran Mu’tazilah melalui kekuasaanya) 
            Untuk melaksanakan gagasan yang terkenal dalam sejarah peristiwa al Mihnah ini, khalifah al Makmun dengan kekuasaannya mulai menerapkan dengan mengirim surat (instruksi) kepada gubernur-gubernurnya agar mengadakan Mihnah terhadap para qadhi yang berada dalam wilayah hukumnya. Pada saat itu khalifah sedang berada di luar kota Baghdad di kota Tarsus. Yang menjadi gubernur Baghdad ketika itu ialah Ishaq bin Ibrahim, isi surat tersebut agar para gubernur mengadakan penyelidikan terhadap para qadhi di daerahnya. Bagi mereka yang mengakui khalqu al Qur’an dan bersifat baru tidak qadim akan diberikan kepercayaan untuk melakukan mihnah terhadap orang lain. Instruksi mengadakan mihnah ini di Mesir cepat usai, tetapi di Kuffah kebanyakan masyarakat menentang kebijaksanaan khalifah.
            Pada langkah pertama terbatas kepada tindakan pemecatan dan tidak diberikannya kepada orang-orang yang tidak mau mengakui diciptakannya al Qur’an tidak sampai terjadi penganiayaan. Selanjutnya perintah khalifah kepada Gubernur Ishaq bin Ibrahim agar mengirimkan kepadanya tujuh orang pemuka ahli hadis untuk di uji sendiri oleh khalifah sendiri mereka itu Muhammad bin Sa’ad, Abu Muslim Yazid bin Harun, Yahya bin Ma’in, Zubair bin Harb dan Ahmad bin al-Dauraqi. Hal ini dengan pertimbangan agar para pemimpin di daerah yang berpendapat bahwa al Qur’an itu qadim, mereka akan takut dan dengan mudah mengikuti pendapat khalifah tanpa terjadi fitnah. Bagi mereka yang mau mengakui bahwa al Qur’an itu qadim, mereka akan dibebaskan kembali ke negerinya (Baghdad) supaya mereka menyampaikan kepada para ahli hadis dan fiqih di daerah mereka.
            Pada kesempatan ini Ahmad bin Hanbal tidak diikut sertakan, melainkan dipanggil secara khusus untuk dihadapi oleh Ahmad bin Abi Daud Qadhi (advokat) kenamaan dalam urusan Mihnah. Karena Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat keras menentang faham Mu’tazilah terutama khalqu al Qur’an.
            Pada langkah kedua, khalifah tidak melepaskan para ahli hadis dan ahli fiqih yang tidak mau mengakuinya. Hal ini dengan maksud dan tujuan untuk meluruskan dan memurnikan tauhid mereka, ibarat mengembalikan mereka dalam kekafiran.
            Jika perlu bagi mereka yang tetap konsisten dan membangkang akan dibunuh sebagaimana membunuh orang yang murtad dari agamanya, karena mereka adalah anutan masyarakat yang harus menjadi contoh, karena itu imannya haruslah benar. Berikut Ishaq bin Ibrahim mengumpulkan/memanggil 30 orang qadhi/ahli hadis dan ahli fiqih untuk diadakan mihnah bagi mereka. Dalam ujian ini semuanya mengakui kebaruan al Qur’an, kecuali hanya 4 orang yaitu: Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Nuh, Sajadah dan Qawarir. Mereka yang mengakuinya dibebaskan dan keempat orang tersebut dibelenggu. Beberapa hari kemudian, ketika diadakan mihnah kembali, mereka mengakui khalqu al Qur’an itu kecuali Imam Ahmad bin Hanbal, maka dilepaslah kesemuanya kecuali Imam Ahmad bin Hanbal.
            Penahanan Imam Ahmad bin Hanbal dan kemudian penahanan ke Tarsus, ia tidak dibunuh karena dikhawatirkan akan ada fitnah yang lebih besar karena banyaknya pengikut dan simpatisan dari kaum muslimin sampai tiba waktu terdengar berita tentang meninggalnya al Makmun, tetapi tidaklah ringan penderitaan Imam Ahmad bin Hanbal ini, karena sebelum khalifah meninggal ia telah mewasiatkan kepada keluarganya (al Mu’tashim) agar meneruskan ide dan kebijaksanaan ini (khalqu al Quran dan al mihnah), dan di ingatkan pula supaya selalu berkonsultasi dengan Ahmad bin Abi Daud.
            Ahmad bin Hanbal tetap juga dengan pendiriannya meskipun dengan pukulan dan cambukan, di dalam riwayat Mas’udi, beliau dicambuk dengan cemeti 30 kali sampai berlumuran darah. Ahmad bin Abi Daud  dan khalifah mengajak sang Imam ini untuk berdialog langsung dan di uji pula dengan penguji-penguji lainnya, namun Imam Ahmad bin Hanbal tetap pada pendiriannya semula sampai digantikannya khalifah dengan khalifah al Watsiq.
            Pada masa khalifah al Watsiq, beliau di usir dan tidak boleh ditengok oleh siapapun. Ahmad bin Hanbal bersembunyi tidak keluar sama sekali, baik untuk shalat maupun keperluan lain sampai ia meninggal dunia.
            Pada masa pemerintahan al Watsiq ini, al Mihnah tidak lagi hanya berlaku pada qadhi dan ulama-ulama ahli tapi juga diberlakukan lebih luas lagi seperti guru-guru, muadzin, penjaga masjid dan lain-lainnya sampai khalifah wafat dan digantikan dengan al Mutawakkil.

d. Ajaran-ajaran Mu’tazilah

1)      Al Tauhid
            Tuhan dalam paham Mu’tazilah betul-betul Esa dan tidak ada sesuatu yang serupa denganNya. Ia menolak paham anthromorpisme (paham yang menggambarkan Tuhannya serupa dengan makhlukNya) dan juga menolak paham beatic vision (Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala) untuk menjaga kemurnian Kemahaesaan Tuhan, Mu’tazilah menolak sifat-sifat Tuhan yang mempunyai wujud sendiri di luar Zat Tuhan. Hal ini tidak berarti Tuhan tak diberi sifat, tetapi sifat-sifat itu tak terpisah dari ZatNya. Mu’tazilah membagi sifat Tuhan kepada dua golongan :
a.       Sifat-sifat yang merupakan esensi Tuhan, disebut sifat dzatiyah, seperti al Wujud - al Qadim – al Hayy dan lain sebagainya
b.      Sifat-sifat yang merupakan perbuatan Tuhan, disebut juga dengan sifat fi’liyah yang mengandung arti hubungan antara Tuhan dengan makhlukNya, seperti al Iradah – Kalam – al Adl, dan lain-lain.

Kedua sifat tersebut tak terpisah atau berada di luar Zat Tuhan, Tuhan Berkehendak, Maha Kuasa dan sifat-sifat lainnya semuanya bersama dengan Zat. Jadi antara Zat dan sifat tidak terpisah.
Pandangan tersebut mengandung unsur teori yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa : penggerak pertama adalah akal, sekaligus subyek yang berpikir  

2)      Al ‘Adl
            Paham keadilan dimaksudkan untuk mensucikan Tuhan dari perbuatanNya. Hanya Tuhan lah yang berbuat adil, karena Tuhan tidak akan berbuat zalim, bahkan semua perbuatan Tuhan adalah baik. Untuk mengekspresikan kebaikan Tuhan, Mu’tazilah mengatakan bahwa wajib bagi Tuhan mendatangkan yang baik dan terbaik bagi manusia. Dari sini lah muncul paham al Shalah wa al Aslah yakni paham Lutf atau rahmat Tuhan. Tuhan wajib mencurahkan lutf bagi manusia, misalnya mengirim Nabi dan Rasul untuk membawa petunjuk bagi manusia.
            Keadilan Tuhan menuntut kebebasan bagi manusia karena tidak ada artinya syari’ah dan pengutusan para Nabi dan Rasul kepada yang tidak mempunyai kebebasan. Karena itu dalam pandangan Mu’tazilah, manusia bebas menentukan perbuatannya.

3)      Al Wa’d wa al Wa’id (Janji dan Ancaman)
            Ajaran ini merupakan kelanjutan dari keadilan Tuhan, Tuhan tidak disebut adil jika ia tidak memberi pahala kepada orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat buruk, karena itulah yang dijanjikan oleh Tuhan. QS. Al Zalzalah ayat 7-8.

Terjemahnya :“Barang siapa yang berbuat kebajikan seberat biji zarrah, niscaya dia akan lihat balasannya, dan barang siapa yang berbuat keburukan seberat biji zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”

4)      Manzilah Baina Manzilatain (Posisi di antara dua tempat)
            Posisi menengah dalam ajaran Mu’tazilah di tempati oleh orang-orang Islam yang berbuat dosa besar. Pembuat dosa besar bukan kafir karena masih percaya kepada Tuhan dan Nabi Muhammad saw, tetapi tidak juga dapat dikatakan mukmin karena imannya tidak lagi sempurna, maka inilah sebenarnya keadilan (menempatkan sesuatu pada tempatnya), akan tetapi di akhirat hanya ada syurga dan neraka, maka tempat bagi orang-orang yang berbuat dosa adalah di neraka, hanya saja tidak sama dengan orang-orang kafir sebab Tuhan tidak adil jika siksaannya sama dengan orang kafir. Jadi lebih ringan dari orang kafir

5)      Amar Ma’ruf , Nahi Munkar.
            Perintah berbuat baik dan mencegah kemungkaran adalah suatu kebajikan bagi semua umat Islam. Seruan amar ma’ruf nahi munkar bisa dilakukan dengan hati, tetapi jika memungkinkan dapat dilakukan dengan seruan bahkan dengan tangan dan pedang. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang artinya :

Barang siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hati, itulah serendah-rendahnya iman”.



e. Tokoh-tokoh aliran Mu’tazilah.

            Tokoh aliran Mu’tazilah banyak jumlahnya dan masing-masing mempunyai pikiran dan ajaran sendiri yang berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya atau tokoh-tokoh pada masanya, sehingga masing-masing tokoh mempunyai aliran sendiri. Dari segi geografis, aliran Mu’tazilah dibagi menjadi dua, yaitu aliran Mu’tazilah Basrah dan aliran Mu’tazilah Baghdad. Aliran Mu’tazilah Basrah lebih dahulu munculnya, lebih banyak mempunyai kepribadian sendiri dan yang pertama-tama mendirikan aliran Mu’tazilah.
            Perbedaan antara kedua aliran Mu’tazilah tersebut pada umumnya disebabkan karena situasi geografis dan kulturil. Kota Basrah lebih dahulu didirikan daripada kota Baghdad, dan lebih dahulu mengenal perpaduan aneka ragam kebudayaan dan agama. Dalam pada itu, meskipun Baghdad kota terbelakang didirikan, namun menjadi ibukota khilafat Abbasiyah.
            Menurut Ahmad Amin sebagaimana yang ditulis oleh A. Hanafi bahwa pengaruh filsafat Yunani pada aliran Mu’tazilah Baghdad lebih nampak, karena adanya kegiatan penerjemahan buku-buku filsafat di Baghdad, dan juga karena istana khalifah-khfalifah Abbasiyah di Baghdad menjadi tempat pertemuan ulama-ulama Islam dengan ahli-ahli pikir golongan lain. Aliran Basrah lebih banyak menekankan segi-segi teori dan keilmuan, sedang aliran Baghdad sebaliknya, lebih menekankan segi pelaksanaan ajaran Mu’tazilah dan banyak terpengaruh oleh kekuasaan khalifah-khalifah. Aliran Baghdad banyak mengambil soal-soal yang telah dibahas aliran Basrah, kemudian diperluas pembahasannya.
            Tokoh-tokoh aliran Basrah: al Washil bin ‘Atho, al ‘Allaf, An Nazzham dan Jubba’i. Tohoh-tokoh aliran Baghdad antara lain : Bisyr bin al Mu’tamir, al Khayyat. Kemudian pada masa-masa berikutnya lagi ialah Qadhi Abdul Jabar dan az Zamakhsyari. Uraian berikut ini didasarkan atas urut-urutan geografis dan kronologis.

1.      Washil bin ‘Atha (699-748 M)
      Nama lengkapnya Washil bin ‘ Atha al Ghazzal, ia terkenal sebagai pendiri aliran Mu’tazilah yang pertama dan peletak lima besar ajaran Mu’tazilah

2.      Abu Huzail al ‘Allaf (226 H/841 M)
            Abu Huzzail al ‘Allaf adalah pendiri yang sebenarnya bagi aliran Mu’tazilah. Ia mengembangkan pandangan-pandangan Mu’tazilah dan meramunya dengan informasi-informasi baru. Atas prakarsanya, tidak sedikit lahir tokoh besar Mu’tazilah. Ia dilahirkan di Basrah dan lama berdomisili di kota ini. Al ‘Allaf pernah diundang ke Baghdad untuk beberapa waktu, ia diberi umur panjang, hidup sekitar 100 tahun lamanya. Hidup sezaman dengan gerakan penerjemahan Islam yang terbesar. Berhubungan dengan kebudayaan asing. Kelebihan al ‘Allaf ialah karena punya pengetahuan luas, pemikiran mendalam, lisan fasih, argumentasi yang kuat, dan Pendebat aliran dualisme dan rafidah. Seringkali dalam perdebatan al ‘Allaf berhasil membungkam lawannya. Ia begitu terampil dalam diskusi-diskusinya hingga mampu mematahkan (argumentasi) lawan, bahkan berhasil menarik kaum penentang untuk memeluk Islam. Al ‘Allaf menulis dan mengarang banyak buku, sayangnya kira-kira itu tidak diselamatkan dan musnah dimakan zaman, yang dalam masalah ini ia sampai pada sejumlah pandangan yang keras dan aneh, sehingga menjadi topik kritik pro dan kontra. Al ‘Allaf merupakan orang pertama dari kalangan kaum muslimim yang serius terjun menggeluti problematika ketuhanan, yang dibalut dengan label filosofis.



3.      Al Nazzam (231 H/ 845 M)
Al Nazzam adalah filosof pertama dari kalangan Mu’tazilah yang paling mendalam pikirannya. Paling berani, paling banyak berfikir merdeka di samping orisinil pendapatnya di antara mereka. Al Nazzam adalah anak saudara perempuan al ‘Allaf dan muridnya sekaligus. Belajar kepadanya kemudian memberontak dan berfikir merdeka. Al Nazzam sejalan dengan al ‘Allaf dalam hal keluasan cakrawala, kefasihan lisan dan kekuatan berargumentasi. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Basrah, kemudian mengembara di pusat-pusat peradaban Islam kemudian ia berdomisili di Baghdad. Ia tidak diberi umur panjang seperti gurunya al ‘Allaf . Di antara pendapat yang kuat mengatakan bahwa ia meninggal pada usia 60-70 tahun. Berkat kecerdasannya ia mampu menguasai dan mengkritik teori-teori yang berkembang di sekitarnya, dan membawa kesimpulan baru.

4.      Abu Hasyim al Jubba’i (321 H/ 932 M)
                  Al Jubba’i adalah tokoh besar terakhir dari kalangan Mu’tazilah. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Basrah. Ia belajar kepada ayahnya, kemudian memisahkan diri darinya, berbeda pendapat dengannya lalu mendirikan kelompok khusus. Ia hidup sezaman dengan al Farabi dan sebagian kaum paripatetik Arab dan terpengaruh mereka . Teorinya tentang al Ahwal (kondisi-konsisi), merupakan saksi terbaik yang membuktikan anggapan itu. Al Jubba’i berusaha untuk menolak sebagian teori kosmologi yang dikemukan oleh Aristoteles.

5.      Bisyr bin Al Mu’tamir (226 H/ 840 M)
Ia adalah pendiri aliran Mu’tazilah di Baghdad. Pandangan-pandangannya mengenai kesusasteraan, sebagaimana yang banyak dikutip oleh al Jahiz dalam bukunya “al Bayan wa al Tabyin”, menimbulkan dugaan bahwa dia adalah orang yang pertama-tama mengadakan ilmu Balaghah
Beberapa pendapatnya tentang paham Mu’tazilah hanya sedikit saja yang sampai kepada kita. Ia adalah orang-orang yang pertama mengemukakan soal tawallud (reproduction) yang  boleh dimaksudkan untuk mencari batas-batas pertanggung jawab manusia atas perbuatannya.
Di antara murid-muridnya yang besar pengaruhnya dalam penyebaran  paham-paham ke-Mu’tazilahan di Baghdad ialah Abu Musa al Mudar, Tsumamah bin al Asyras dan Ahmad bin Fuad.

6.      Al Khayyat (303 H/ 925 M)
Ia adalah Abu Husein al Khayyat, termasuk tokoh Mu’tazilah Baghdad dan pengarang buku ‘al Intisar’ yang dimaksudkan untuk membela aliran Mu’tazilah  dari serangan Ibnu al Rawandi. Ia hidup pada masa kemunduran aliran Mu’tazilah.

7.      Al Qadhi Abdul Jabbar (1024 M di Ray)
Ia juga hidup pada masa kemunduran aliran Mu’tazilah. Ia diangkat menjadi kepala hakim (qadhi al qudhat) oleh Ibnu ‘Abad. Di antara karangan-karangannya ialah ulasan tentang pokok-pokok ajaran aliran Mu’tazilah terdiri dari beberapa jilid, dan banyak dikutip oleh as Syarif al Murtadha. Buku tersebut sedang dalam penerbitan di Kairo dengan nama “al Mughni”.

8.      Az Zamakhsyari (467-538 H/ 1075-1144 M)
            Namanya Jaar Allah Abul Qasim Muhammad bin Umar, kelahiran Zamakhsyar, sebuah dusun di negeri Khawarazm (sebelah selatan lautan Qazwen), Iran. Sebutan Jaarullah yang  berarti tetangga Tuhan, dipakainya karena ia lama tinggal di Mekah dan bertempat  di sebuah rumah dekat Ka’bah. Selama hidupnya ia banyak mengadakan perlawatan, dari negeri kelahirannya menuju Baghdad, kemudian ke Mekkah untuk bertempat di sana beberapa tahun lamanya dan akhirnya ke Jurjan (Persi-Iran) dan di sana ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
            Pada diri al Zamakhsyari sekumpulan karya alran Mu’tazilah selama kurang lebih empat abad. Ia menjadi tokoh dalam ilmu tafsir, nahwu (grammatika) dan paramasastera (lexicology) seperti yang dapat kita lihat dalam tafsirnya ‘al Kassyaf’ dan kitab-kitab lainnya, seperti “al Fa-iq, Assaul Balaghahdan al Mufassal”.
            Ia dengan terang-terangan menonjolkan paham ke-Mu’tazilahannya dengan dituliskan dalam buku-bukunya, serta dikemukakannya dalam pertemuan-pertemuan keilmuan. Dalam tafsirnya ‘al Kassyaf’, ia telah berusaha sekuatnya untuk menafsirkan ayat-ayat al Quran berdasarkan ajaran-ajaran Mu’tazilah, terutama lima prinsip, yaitu Tauhid, Keadilan, Janji dan Ancaman, Tempat di antara dua tempat dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.        

2. Latihan-latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :
a.       Jelaskan asal usul penamaan Mu’tazilah
b.      Bagaimana corak pemikiran Mu’tazilah
c.       Apa yang dimaksud dengan Mihnah
d.      Masalah apa yang diangkat Mu’tazilah dalam Mihnah
e.       Jelaskan ajaran-ajaran Mu’tazilah
f.       Sebutkan tokoh-tokoh Mu’tazilah

3. Rangkuman

            Mu’tazilah adalah nama yang diberikan kepada peristiwa Washil bin ‘Atha dengan gurunya yang meninggalkan pengajian karena tak sependapat dalam hal pelaku dosa besar. Sementara mereka sendiri menamakan Ahlu al Adl Wattauhid.
            Aliran Mu’tazilah dikenal sebagai aliran rasional dalam Islam karena memberi peran akal lebih besar, sehingga dalam ajaran-ajarannya berbeda pendapat dengan golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah, seperti penolakan terhadap sifat-sifat Tuhan, pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan kafir. Tuhan wajib menepati janji dan amanahNya, dan al Qur’an adalah makhluk.

Aliran Murji’ah, Asy ’Ariyah Dan Mu’tazilah dalam ILMU KALAM




Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kat”. Kaum teolog Islam berdebat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau ushuluddin, ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari agama. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan.
            Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. Akan tetapi perselisihan politik ini, seiring dengan perjalanan waktu, meningkat menjadi persoalan teologi.
            Pada masa nabi Muhammad berada di Madinah dengan status sebagai kepala agama sekaligus kepala pemerintahan, umat Islam bersatu di bawah satu kekuasaan politik. Setelah beliau wafat maka muncullah perselisihan pertama dalam Islam yaitu masalah kepemimpinan. Abu Bakar kemudian terpilih sebagai pemimpin umat Islam setelah nabi Muhammad diikuti oleh Umar pada periode berikutnya. Pada masa pemerintahan Usman pertikaian sesama umat Islam berikutnya terjadi ya pada pembunuhan Usman bin Affan, khalifah ketiga.
            Pembunuhan Usman berakibat perseteruan antara Muawiyah dan Ali, dimana yang pertama menuduh yang kedua sebagai otak pembunuhan Usman. Ali diangkat menjadi khalifah keempat oleh masyarakat Islam di Madinah. Pertikaian keduanya juga memperebutkan posisi kepemimpinan umat Islam setelah Muawiyah menolak diturunkan dari jabatannya sebagai gubernur Syria. Konflik Ali-Muawiyah adalah starting point dari konflik politik besar yang membagi-bagi umat ke dalam kelompok-kelompok aliran pemikiran.
1.      Aliran Murji’ah
A.      Munculnya Aliran murji’ah
Aliran murji’ah adalah ailran Islam yang muncul sebagai reaksi terhadap pendapat-pendapat dari aliran Khawarij. Atau dengan kata lain aliran Murji’ah ini adalah aliran yang yang tak sepaham dengan aliran Khowarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khawarij. Pengertian murji'ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tidak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.
Pendirinya tidak diketahui dengan pasti, tetapi Syahristani menyebutkan dalam bukunya Al-Milal wa an-Nihal (buku tentang perbandingan agama serta sekte-sekte keagamaan dan filsafat) bahwa orang pertama yang membawa paham Murji’ah adalah Gailan ad-Dimasyqi.
Tokoh utama aliran ini ialah Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, dan Diror bin 'Umar. Dalam perkembangan selanjutnya, aliran ini terbagi menjadi kelompok moderat (berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan di hukum sesuai dengan besar kecilnya dosa yang dilakukan) yang dipelopori Hasan bin Muhammad bin 'Ali bin Abi Tholib dan kelompok ekstrem (berpendapat bahwa orang Islam yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufur tempatnya dalam hati.) dipelopori Jaham bin Shofwan.
  
B.       Ajaran-ajaran pokok aliran Murji'ah
Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok Murji'ah adalah:
1.      Iman itu adalah tashdiq saja atau pengetahuan hati saja atau iqrar saja. Jadi pengikut golongan ini tak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari.
2.      Amal itu tidak masuk dalam hakekat iman dan tidak pula masuk dalam bagiannya.
3.      Iman tidak bisa bertambah atau berkurang.
4.      Orang yang berbuat maksiat tetap dikatakan Mu’min kamilul Iman ( mukmin yang sempurna imannya) sebagaimana sempurnanya tashdiq mereka (tidak dapat tergoyahkan dengan apapun) dan di akhirat kelak ia tidak akan masuk neraka.
5.      Manusia itu pencipta amalnya sendiri dan Allah tidak dapat melihatnya diakhirat nanti. (Ini seperti pemahaman Mu’tazilah)
6.      Sesungguhnya Imamah itu tidak wajib, kalaupun Imamah itu ada, maka Imamnya itu boleh datang dari golongan mana saja walaupun bukan dari Quraisy. (dalam masalah ini pemahamannya seperti Khawarij).
7.      Bodoh kepada Allah itu adalah kufur kepada-Nya.
2.      Aliran Asy ’Ariyah
A.      Munculnya Aliran Asy’ariyah
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran Mu’tazilah yang dianggap menyeleweng dan menyesatkan umat Islam. Mu’tazilah pada masa al Ma’mun melakukan mihnah yang mendapat tanggapan negatif dari berbagai golongan, sehingga pengaruhnya sedikit memudar di mata masyarakat.
Aliran Asy’ariyah diambil dari nama pendirinya yaitu Abu Al Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari.
Al Asy’ari adalah seorang yang dididik dan dibesarkan di lingkungan mu’tazilah. Ia menyelami ajaran-ajaran Mu’tazilah melalui gurunya,  Al Jubbai. Dengan ketekunan dan kepandaiannya, maka ia menjadi murid kesayangan Al Jubbai dan sering diutus untuk mengikuti forum diskusi dan perdebatan Sehingga tak heran kalau ia kemudian menjadi terampil dalam berdebat dan beradu argumen, termasuk dengan gurunya sendiri, namun ia sering merasa kecewa dengan jawaban ataupun penjelasan gurunya. Hingga pada usia 40 tahun, Al Asy’ari menyatakan keluar dari Mu’tazilah mendirikan golongan baru, yang akhirnya populer dengan nama Asy’ariyah.
Pokok-pokok pemikiran Asy’ariyah terus berkembang. Bahkan pokok-pokok pemikiran teologi Asy’ariyah telah menjadi keyakinan seluruh anggota Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah. Aliran ini semakin besar dengan dukungan Khalifah Al Mutawakkil, yang menjadikannya sebagai mazhab resmi negara.
B.     Ajaran-ajaran aliran asy’ariyah
Adapun pandangan-pandangan Asy’ariyah yang berbeda dengan Muktazilah, di antaranya ialah:
1. Tuhan mempunyai sifat-sifat dan Tuhan mengetahui bukan dengan dzat-Nya tetapi mengetahui dengan pengetahuan-Nya.
2. Al-Qur’an adalah kalamullah yang tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim.
3. Manusia dapat melihat Allah pada hari kiamat dengan petunjuk Tuhan dan hanya Allah pula yang tahu bagaimana keadaan sifat dan wujud-Nya.
4. Perbuatan-perbuatan manusia bukan aktualisasi diri manusia, melainkan diciptakan oleh Tuhan.
5. Keadilan Tuhan terletak pada keyakinan bahwa Tuhan berkuasa mutlak dan berkehendak mutlak. Apa pun yang dilakukan Allah adalah adil. Mereka menentang konsep janji dan ancaman (al-wa’d wa al-wa’id).
6. Mengenai anthropomorfisme, yaitu memiliki atau melakukan sesuatu seperti yang dilakukan makhluk, jangan dibayangkan bagaimananya, melainkan tidak seperti apapun.
7. Menolak konsep tentang posisi tengah (manzilah bainal manzilataini), sebaba tidak mungkin pada diri seseorang tidak ada iman dan sekaligus tidak ada kafir. Harus dibedakan antara iman, kafir, dan perbuatan.
3.  Aliran Mu’tazilah
A.   Munculnya Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazila merupakan aliran teologi Islam yang terbesar dan tertua, yang telah memainkan peranan penting dalam sejarah pemikiran dunia Islam. Pada awal berdirinya, orang-orang yang ada dalam aliran ini enggan disebut sebagai kaum Mu’tazilah, tetapi ia lebih mempopulerkan dirinya dengan golongan ahl al-tauhid wa al-adl.
Aliran Mu’tazilah lahir kurang lebih pada permulaan abad pertama hijriyah di Basrah (Irak) Pada waktu itu banyak orang-orang yang hendak menghancurkan Islam dari segi aqidah, baik yang berasal dari dalam Islam sendiri (orang-orang yang baru masuk Islam tetapi masih membawa aqidah agama lama) atau luar Islam. Di samping itu umat Islam pada saat itu sudah terpecah menjadi beberapa golongan, yakni Khawarij, Syi’ah dan Murji’ah. Dan aliran-aliran itu dalam pemikirannya masih dangkal dan sulit dipersatukan. Sehingga aliran yang pada awalnya menggunakan nama ahlu al-tauhid wa al-adl ini perlu menyelamatkan muka Islam.
Mu’taazilah timbul sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dan Murji’ah mengenai persoalan dosa besar seorang muslim. Adalah Waasil bin Atha’ yang kecewa dengan gurunya Hasan Al-Basri, dan menyatakan bahwa seorang muslim yang berdosa besar menempati posisi di antara dua posisi (al-manzilu baina manzilatain), artinya, ia tidak bisa disebut sebagai mu’min tetapi ia juga tidak bisa disebut sebagai kafir, akan tetapi lebih tepat jika disebut fasiq.
Dalam perkembangan selanjutnya, aliran Mu’tazilah lebih banyak menggunakan akal sehingga ia sering disebut sebagai aliran rasionalistik. Dalam pandangannya, akal sebagai karunia terbesar Tuhan mempunyai fungsi yang luar biasa untuk memahami ayat-ayat Tuhan, sehingga ia merupakan sumber pengetahuan utama. Oleh akrena itu bagi Mu’taazilah, keraguan adalah sebagai metode untuk mencari kebenaran. Keraguan yang dipergunakan bukan keraguan yang sungguh-sungguh, melainkan hanya sebagai suatu metode untuk menemukan suatu kebenaran.
Pada awal berdirinya, Mu’tazilah tidak banyak mendapat simpati, karena masyarakat awam sulit menerima dan memahami ajaran-ajaran yang rasionalistik ini. Mu’tazilah baru menjadi besar dan mendapat banyak pengikut pada zaman pemerintahan Al-Makmun, bahkan telah menjadi mazhab resmi negara.
Aliran Mu’taazilah mulai menurun pada masa Al Mutawakil. Keadaan ini semakin memburuk bagi Mu’tazilah ketika Al Mutawakil membatalkan pemakaian mazhab Mu’tazilah dan digantikan dengan mazhab Asy’ariyah.
A.    Ajaran-ajaran aliran Mu’tazilah
Pada prinsipnya Mu’tazilah mempunyai lima hal pokok dalam pandangannya, yang populer disebut af’al al-ushul al-khamsah, yakni; al-Tauhid, al-Adl, al-Manzilu baina manzilatain, al-wa’du wa al-wa’id, dan amar ma’ruf nahi munkar.
1.    Al Tauhid
Tuhan, menurut Mu’tazilah, tidak mempunyai sifat-sifat yang mempunyai wujud di luar zatnya. Tuhan tidak mungkin diberikan sifat-sifat yang mempunyai wujud tersendiri dan kemudian melekat pada zat Tuhan. Karena zat Tuhan bersifat qadim. Kalau dikatakan Tuhan mempunyai sifat-sifat yang qadim, maka akan menunjukkan bahwa Allah itu berbilang-bilang atau Tuhan lebih dari satu. Padahal Allah itu maha Esa, tidak ada yang menyekutuinya, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak seperti apapun zat Tuhan hanyalah satu (Esa) tidak terbilang. Tuhan tidak berjisim, bersifat, berunsur serta berjauhar (atom). Dengan demikian apabila ada pandangan bahwa Tuhan bersifat maka orang itu dapat disebut sebagai syirik.
Kalaupun dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Tuhan mengetahui, berkehendak, berkuasa dan sebagainya, itu tidak lain tak terlepas dari zatnya. Abu Huzail memberikan pendapatnya bahwa yang dimaksud Tuhan mengetahui adalah mengetahui dengan pengetahuan, dan pengetahuannya adalah zat-Nya, Tuhan berkuasa dengan kekuasaan dan kekuasaan-Nya adalah zatnya, Tuhan itu hidup dengan kehidupan dan kehidupan-Nya adalah zatnya, dan begitu seterusnya.
2.    Al Adl
Manusia diciptakan Tuhan dengan membawa kemerdekaan pribadi. Ia mempunyai daya untuk berbuat sesuatu dengan bebas. Perbuatan-perbuatan yang ia lakukan adalah kehendak dirinya dan bukan kehendak siapapun, termasuk Tuhan. Manusia dapat berbuat baik ataupun buruk adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri, karena ia mempunyai daya untuk itu. Sedangkan daya (istita’ah) terdapat dalam diri manusia sebelum ia melakukan suatu perbuatan. Sebagaimana diterangkan oleh Abdul Al Jabbar, bahwa yang dimaksud “Tuhan membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya” adalah bahwa Tuhan menciptakan daya di dalam diri manusia dan pada daya inilah tergantung wujud perbuatan itu, dan bukanlah yang dimaksud bahwa Tuhan membuat perbuatan yang telah dibuat manusia.
Dengan melihat bahwa manusia bebas berbuat baik artaupun buruk, taat ataupun maksiat, iman ataupun kufur, maka manusia berhak untuk menerima balasan yang sesuai dengan amalnya. Artinya, Tuhan dituntut untuk berbuat keadilan, untuk yang berbuat baik, maka Tuhan harus menganugerahinya dengan pahala dan surga, sedangkan untuk yang berbuat buruk maka Tuhan harus mengukum,nya dengan siksa dan dosa. Jika Tuhan tidak berbuat demikian maka Tuhan dikatakan tidak adil.
3.    Al Manzilu baina al-Manzilatain
Prinsip ini berlatarbelakang kedudukan orang mu’min yang melakukan dosa besar. Menurut beberapa aliran sebelumnya, Khawarij, misalnya, mengatakan bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar maka ia adalah disebut kafir, karena itu wajib dibunuh. Pendapat ini ditentang oleh kaum murji’ah yang mengatakan bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar, ia tetap seorang mu’min. Dari berbagai pendapat ini, Washil bin Atha’ merasa tidak puas, sehingga ia mengatakan bahwa seorang muslim yang melakukan dosa besar bukanlah seorang kafir dan bukan pula seorang muslim tetapi adalah fasiq.
4.    Al Wa’du wa al Wa’id
Bagi Mu’tazilah, kebebasan yang diperoleh manusia dapat diartikan bahwa kekuasaan Tuhan tidak lagi mutlak. Ketidakmutlakan ini disebabkan oleh adanya kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia, keadilan Tuhan serta janji-janji Tuhan serta hukum alam yang tidak berubah-ubah, sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an.

Kebebasan yang didapat manusia baru akan mempunyai makna jika Tuhan membatasi kekuasaan dan kehendak mutlaknya. Sebab, kebebasan menurut mu’taazilah membawa konsekwensi bahwa Tuhan harus membalas perbuatan manusia atas dasar perbuatan manusia itu sendiri, sebagaimana janji-janji Tuhan yang dituangkan dalam al Qur’an.
Telah banyak janji-janji Tuhan yang dituangkan dalam al Qur’an. Semisal bagi orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan balasan sesuai kebaikannya dan yang melakukan kejahatan akan menerima balasan sesuai dengan perbuatannya pula. Dengan demikian Tuhan haruslah menepati janji-janji yang telah disebutkannya sendiri, jika tidak, maka Tuhan tidak menepati janjinya.
5.    Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Benar bahwa manusia bebas berkehendak sesuai dengan keinginannya, namun wajib pula bagi manusia untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran. Sebagai khalifah di bumi dan telah diberi anugerah berupa akal dan daya yang tidak dimiliki makhluk lain, manusia seharusnya berupaya pula untuk mencegah orang lain berrbuuat kejahatan dan mengajaknya kepada kebaikan-kebaikan, serta memberikan atau menularkan pikiran-pikirannya kepada orang lain.